Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2016

Trisandhyà


Mantram Trisandhyà

Om bhùr bhvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayàt


VIBHUTI MARGA


A. Pengertian dan Hakikat Vibhuti Marga
Tuhandalam keadaan tanpa sifat disebut nirguna atau sunya. Nirguna atau sunya adalah istilah yang digunakan untuk memahami hakikat Tuhan dalam keadaan hukumnya semula. Dalam ilmu filsafat dikatakan sebagai keadaan alam transendental. Transendental adalah sesuatu yang berada di luar dari lingkaran kemampuan pikir. Kalau diibaratkan fikiran itu mempunyai batas seperti lingkaran, segala yang ada di luar lingkaran dinamakan alam transendental.

Kamis, 03 November 2016

DASA YAMA DAN NYAMA BRATA


Om Swastyastu
Untuk teman-teman yang ingin mencari materi tentang dasa yama brata dan dasa nyama brata silahkan klik disini !!!

Rabu, 10 Agustus 2016

Kepemimpinan Hindu


KEPEMIMPINAN HINDU

Manusia merupakan makhluk sosial. Sebagai mahluk sosial manusia akan melakukan kerjasama demi mencapai tujuan yang diinginkan. Salah satunya bekerja sama dalam sebuah bidang organisasi atau kelompok. Pada sebuah organisasi atau kelompok yang terbentuk tentunya memerlukan seorang pemimpin.

Kamis, 17 Maret 2016

catur brata penyepian

Merupakan empat pantangan yang harus dijalankan saat melaksanakan hari Nyepi.

Brata Amati Geni
Tidak menyalakan api selama hari Nyepi, dimana api yang dimaksudkan disini adalah sifat-sifat kroda manusia, seperti amarah. Brata amati geni disimbolkan dengan pemadaman lampu selama hari Nyepi. Hal ini patut ditaati dan dilestarikan sepanjang masa, namun tetap harus ada kebijaksanaan seperti adanya umat sakit, bayi atau yang berumur tua renta. Sedangkan penyalaan api untuk kepentingan pelaksanaan upacara pada Hari Raya Nyepi tetap boleh sampai batas sebelum matahari terbit.

Brata Amati Lelanguan
Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melaksanakan kegiatan yang berfoya-foya atau bersenang-senang. Hiburan selain membantu untuk menghilangkan kejenuhan secara tidak sadar akan membuat menjadi lupa diri dan terjerumus. Bila mampu umat sebaiknya melaksanakan puasa.

Brata Amati Lelunganh
Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh berpergian melainkan harus tetap diam di rumah. Tidak diperbolehkan bepergian memiliki arti tidak boleh meninggalkan area brata penyepian. Jika ada yang melaksanakan brata penyepian dipura masih perbolehkan, jadi artinya selama pelaksanaan brata penyepian tidak diperkenankan meninggalkan area pura tersebut sampai pelaksanaan brata penyepian selesai. Ini untuk melatih pikiran kita agar tidak senantiasa liar tetapi selalu ingat ke dalam sebagai instropeksi diri (mulat sarire).

Brata Amati Karya
Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melakukan pekerjaan, namun bukan berarti sama sekali tidak berkegiatan. Kegiatan yang tidak boleh dilakukan adalah kegiatan yang bersifat judi yang harus dinetralisir dengan pengendalian pikiran.

Secara nyata catur brata penyepian ini tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan khususnya mengurangi dampak pemanasan global, walaupun hanya dalam skala kecil dan area yang sangat sempit, bisa dibayangkan bila seluruh dunia melaksanakan catur brata penyepian maka polusi udara akan berkurang. Dari segi psikologis tentunya juga sangat berguna karena dapat menghilangkan kejenuhan dari tugas-tugas rutin.

Jumat, 11 Maret 2016

Pegat Wakan

Pegat Wakan merupakan nama lain hari Buda Kliwon Pahang. Seperti namanya, Buda Kliwon Pahang jatuh saban hari Buda (Rabu), wara Kliwon, wuku Pahang atau 35 hari setelah hari Galungan. Hari suci ini biasanya ditandai dengan pencabutanpenjor yang terpancang di tiap-tiap bagian depan rumah semenjak hari Penampahan Galungan lalu. Segala jenis sampah dari penjor Galungan itu akan dibakar dan abunya dimasukkan ke dalam kelapa gading kasturi. Selanjutnya, abu pembakaran dalam kelapa gading kasturi itu akan ditanam di pekarangan rumah.

Menurut Ketua Yayasan Dharma Acarya, IB Putu Sudarsana dalam buku Ajaran Agama Hindu (Acara Agama), dikatakan hari Pegat Wakan karena merupakan batas terakhir dari tapa pelaksanaan upacara hari suci Galungan. Selama sebulan (dalam perhitungan Bali, satu bulan itu selama 35 hari), umat Hindu anyekung puja mantra. Kala itu, umat tidak diperkenankan nibakang padewasan (menentukan hari baik) untuk pelaksanaan upacara.

Menurut IBP Sudarsana, pegat itu berarti ‘putus’. Putus mengandung maksud pelepasan (pengelebaran). Sementara kata wakan berasal dari kata wakya yang artinya sabda atau anyekung puja mantra.

“Dengan demikian, maksud dari hari Pegat Wakan yakni pada saat hari itulah melepaskan tapa dananyekung puja mantra, sehubungan dengan pelaksanaan hari suci Galungan. Setelah lewat hari Pegat Wakan, barulah umat Hindu boleh nibakang padewasan untuk kepentingan pelaksanaan upacara agama,” kata Sudarsana.

Memang, hari sepanjang hari suci Galungan hingga Pegat Wakan dikenal dengan sebutan Nguncal Balung. Saat Nguncal Balung dipantangkan melaksanakan upacara-upacara besar karena saat itu dianggap sebagai dewasa yang kurang baik.

Kini, setelah lewatnya Pegat Wakan, akan banyak umat Hindu yang melangsungkan upacara keagamaan. Mulai dari ngaben hingga nganten. Maka, bersiap-siaplah Anda menerima undangan merah upacara pernikahan sahabat atau kerabat Anda 

Selasa, 23 Februari 2016

Sejarah banten

Dalam Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya, disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro – Tegal Lalang, Gianyar, sekarang). Kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara, mula-mula terbatas kepada para pengikutnya saja, lama kelamaan berkembang ke penduduk lain di sekitar Desa Taro.

Jenis upakara yang menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air, dan api disebut “Bali”, sehingga penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali. Jadi yang dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro. Lama-lama ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke seluruh pulau, sehingga pulau ini dinamakan Pulau Bali, dalam pengertian pulau yang dihuni oleh orang-orang Bali, lebih tegas lagi pulau di mana penduduknya melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara (Bali).

Tradisi beragama dengan menggunakan banten kemudian dikembangkan oleh Maha Rsi lain seperti: Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha. Sejak kapan sarana upakara itu berubah nama dari “Bali” menjadi “Banten” dan mengapa demikian, sulit mencari sumber sastranya. Beberapa Sulinggih yang saya hubungi ada yang menyatakan bahwa banten asal kata dari wanten mengalami perubahan dari kata wantu atau bantu.

Jadi banten adalah alat bantu dalam pemujaan, sehingga timbul pengertian bahwa bali atau banten adalah “niyasa” atau simbol keagamaan. Umat Hindu melaksanakan ajaran Agama-nya antara lain melalui empat jalan/ cara (marga), yaitu: Bhakti marga, Karma marga, Jnana marga, dan Raja marga.

Bhakti marga dan Karma marga dilaksanakan sebagai tahap pertama yang lazim disebut sebagai “Apara bhakti”, sedangkan tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan nalar diri masing-masing dilaksanakan Jnana marga dan Raja marga yang disebut sebagai “Para bhakti”. Pada tahap apara bhakti pemujaan dilaksanakan dengan banyak menggunakan alat-alat bantu seperti banten, simbol-simbol dan jenis upakara lainnya, seterusnya pada tahap para bhakti penggunaan banten dan simbol-simbol lainnya berkurang.

Umumnya di Bali keempat marga itu dilaksanakan sekaligus dalam bentuk upacara Agama dengan menggunakan sarana banten yang terdiri dari bahan pokok: daun, bunga, buah, air ,dan api. Sarana-sarana itu mempunyai fungsi sebagai:

Persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi.
Sebagai alat konsentrasi memuja Hyang Widhi.
Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya.
Sebagai alat pensucian.
Sebagai pengganti mantra.
Karena demikian sakralnya makna banten maka dalam Yadnya prakerti disebutkan bahwa mereka yang membuat banten hendaknya dapat berkonsentrasi kepada siapa banten itu akan dihaturkan/ dipersembahkan. Dalam Buku Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu sebagai hasil Paruman Sulinggih yang disahkan PHDI disebutkan bahwa seorang Tukang Banten hendaknya sudah mensucikan diri dengan upacara Pawintenan (sekurang-kurangnya ayaban Bebangkit).

Tujuannya adalah agar Tukang Banten sudah mengetahui tata cara dan aturan-aturan dalam membuat banten misalnya dengan konsentrasi penuh melaksanakan amanat pemesan banten yang akan mempersembahkannya kepada Hyang Widhi. Di kala membuat banten kesucian dan kedamaian hati tetap terjaga, antara lain tidak mengeluarkan kata-kata kasar, tidak dalam keadaan kesal atau sedih, tidak sedang cuntaka, tidak sedang berpakaian yang tidak pantas, menggaruk-garuk anggota badan, atau membuat banten di sembarang tempat.

Disimpulkan bahwa ketika membuat banten, dikondisikan situasi yang suci, sakral, konsentrasi penuh, rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Lihatlah ketika banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih, tempat membuat banten disebut sebagai “Pesucian” yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan.

“Dewasa” atau hari baik untuk mulai membuat banten ditetapkan dengan teliti oleh para Sulinggih. Dalam puja-stuti pereresik banten juga diucapkan doa agar banten tidak dilangkahi anjing, ayam, atau dipegang oleh anak kecil, atau orang yang sedang cuntaka. Beberapa jenis banten utama bahkan hanya boleh dibuat oleh Sang Dwijati, misalnya Catur, dan Pangenteg Gumi.

Untuk menegaskan penting dan sakralnya banten, Mpu Jiwaya salah seorang tokoh pemimpin Agama di abad ke-10 mengajarkan membuat “reringgitan” dengan bahan daun kelapa, enau atau lontar. Reringgitan itu kadang demikian sulit sehingga konsentrasi kita harus penuh. Jika tidak, bisa reringgitannya rusak atau tangannya yang teriris pisau.

Makna membuat banten seperti yang dikemukakan di atas tiada lain agar kita dapat mewujudkan rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Zaman beredar dan kini kita hidup di zaman millennium. Kemampuan kita menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi zaman ini diuji dengan berbagai masalah, antar lain:

Kelangkaan bahan-bahan baku banten.Waktu yang terbatas untuk membuat banten.Tidak semua umat Hindu di Bali bisa membuat banten sendiri.Tentang kelangkaan bahan-bahan baku banten sudah kita maklumi, karena busung, pisang, kelapa, telur, bebek, dan ayam, tidak sedikit yang sudah didatangkan dari luar Bali antara lain: Sulawesi, Lombok, dan Jawa.

Waktu yang terbatas bagi umat Hindu di Bali dalam menyiapkan sarana-sarana upakara menyebabkan sebagian besar umat Hindu membeli banten dari tukang-tukang banten, istilahnya “nunas puput”. Generasi muda mulai bertanya-tanya, mengapa kok melaksanakan ajaran Agama Hindu di Bali dalam bentuk ritual/ upacara menjadi sangat sulit dan mahal.

“Model” umat Hindu-Bali di perkotaan melaksanakan upacara yadnya kini terlihat sudah lumrah seperti: sewa tenda, sewa korsi, pesan katering, dan nunas ayaban di Geria lengkap dengan Sulinggih yang muput. Serba praktis dan ekonomis walaupun segi-segi adat-dresta kegotong-royongan hilang, dan segi sakral membuat banten pada Sang Yajamana hilang.

Jika dikaitkan dengan ajaran Maha Rsi Markandeya dan Mpu Jiwaya seperti diuraikan di atas, agaknya hal yang paling patut dipikirkan adalah segi sakralnya suatu banten. Apalah artinya banten jika Sang Yajamana tidak mengerti dengan makna banten yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi. Ibaratnya kita memberikan sesuatu kepada orang tua kita tetapi ketika ditanya orang lain, apa yang kamu berikan pada orang tuamu? Jawabannya ya, nggak tau! Aneh bukan?

Fenomena seperti itu akan terus berkembang lebih-lebih bilamana dalam suatu rumah tangga sang ayah dan sang ibu masing-masing sibuk dengan profesinya mencari nafkah karena tuntutan kebutuhan hidup yang makin banyak.
Konsep-konsep Manawadharmasastra yang mengatur pembagian tugas pekerjaan rumah tangga antara suami/ istri banyak tidak berlaku lagi. Suami mestinya menghidupi keluarga, dan Istri mestinya mengurus rumah, terutama masalah Panca yadnya dan dengan sendirinya membuat banten.

Adakah jalan keluar menghadapi fenomena seperti itu? Untuk ini ada beberapa hal yang perlu dikemukakan:

Dalam banyak kitab suci antara lain: Manawadharmasastra, Parasaradharmasastra, dll. disebutkan bahwa cara kita beragama di setiap zaman tidaklah sama. Di zaman Kali seperti sekarang ini, cara kita beragama mestinya lebih menekankan pada pencurahan kasih sayang kepada sesama manusia misalnya dalam bentuk dana punia.
Namun demikian tidak berarti bahwa kegiatan ritual keagaman dalam bentuk upacara-upacara yadnya diabaikan. Upacara itu tetap dilaksanakan namun para Sulinggih diharap memberikan dharmawacana agar sang yajamana mengerti dengan makna upacara yadnya yang diselenggarakannya.
Sesuai dengan konsep Desa-Kala-Patra maka umat Hindu di Bali diharapkan menyelenggarkan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan finansial yang nyata dan waktu yang luang.
Apabila terpaksa membeli banten, belilah dari orang yang diyakini memenuhi syarat sebagai tukang banten.
Para tukang banten hendaknya turut memikirkan dan mengupayakan bagaimana caranya agar umat kita tidak terlalu mahal membeli banten, lebih-lebih jika diingat bahwa tukang banten adalah kelompok orang yang disucikan dan dengan demikian diharapkan sudah mampu menguasai “Sad-ripu” yang ada dalam dirinya sendiri.
Banten yang dikategorikan dalam kelompok:

Alit
Madya
Ageng
Hendaknya dijelaskan oleh para Sulinggih kepada umat secara luas, dengan menekankan bahwa banten yang alit tidak berarti nilainya lebih rendah dari banten yang madya-utama, demikian sebaliknya, karena hakekat banten adalah curahan rasa bhakti dan kasih kepada Hyang Widhi. Janganlah sampai umat kita menghadapi kesulitan atau menjadi miskin karena melaksanakan upacara yadnya secara keliru, yaitu membeli banten melebihi batas kemampuan finansialnya yang nyata.

Selasa, 16 Februari 2016

Desa kala patra

Bagi umat Hindu istilah ini bukanlah asing lagi. Istilah ini disebut-sebut sebagai faktor berbedanya praktik ritual Hindu disetiap daerah/wilayah. Sehingga timbul kesan bahwa penerapan agama Hindu yang berhubungan dengan upacara agama tidak memiliki standar.

Sejarah kelahiran agama Hindu dengan segenap ajarannya sering digambarkan sebagai gelindingan bola salju. Begitu segenggam salju diluncurkan dari ketinggian gunung, bola salju yang semula kecil kian lama kian besar dan selama proses luncur segala hal yang dilintasi pun terbawa bersamanya. Arti dari gambaran memberikan pemahaman bahwa ajaran Hindu yang berintikan Weda dalam penerapan atau praktek pengalamannya sepanjang berhubungan dengan “di luar inti” yaitu hakekat (Tattwa Darsana) dapat menyesuaikan dan mengharmoniskan diri dengan kondisi setempat. Ibarat telur, inti telur semuanya berwarna kuning, tetapi soal kulitnya berbagai warna telur dapat dijumpai. Bagi Hindu bukan kulit atau keanekaragaman pengalaman yang mutlak melainkan intisari ajaran yang mengacu pada Weda. Itulah sebabnya tidak ada kata “baku” dalam agama Hindu. Pijakan pelaksanaan agama Hindu bukan saja Weda dengan Sruti dan Smrtinya tetapi juga berpegangan pada sila(teladan prilaku orang-orang suci), Acara(tradisi/adat) dan Atmanastuthi(ketetapan hati/kepuasan bathin).

Umat Hindu yang memiliki tingkat pengetahuan, pemahaman dan penghayatan terhadap ajaran Weda dapat menjadikan salah satu pijakan/pegangan diatas sebagai wujud nyata dalam melaksanakan kewajiban agamanya. Di dalam Bhagawadgita dijelaskan ada 4(empat) jalan untuk merealisasikan sikap keagamaan umat Hindu yang disebut dengan Catur Marga, antara lain:

Bagi yang memiliki tingkat rohani atau spiritual yang tinggi dapat mewujudkan sikap religiusnya dengan menempuh Raja Marga, misalnya: dengan melakukan “tapa-brata-yoga-semadhi”.
Untuk yang merasa tinggi tingkat ilmu pengetahuannya bisa mewujudkan bhaktinya kepada Hyang Widhi dengan jalan Jnana Marga.
Dan bagi sebagian besar umat yang hanya merasa sebagai pelaku dan pencinta Tuhan, maka cara sederhana, alamiah dan penuh simbol dapat dilakukan dengan Karma dan Bhakti Marga.
Inilah yang menjadi dasar bervariasinya bentuk-bentuk ritualitas pelaksanaan upacara agama Hindu. Karena setiap wilayah/tempat(desa),waktu(kala), dan situasi/kondisi(patra) membuat beraneka ragamnya bentuk-bentuk ritual yang dilakukan.

Jadi, yang bersifat baku adalah yang berhubungan dengan intisari ajaran yang bersumber pada Weda, sedangkan pengalaman ajaran Weda sesuai dengan Catur Marga, tergantung pada tingkat kerohanian umat untuk siap melakukannya. Singkatnya agama Hindu bukan agama tidak mensyaratkan patokan baku/standar/dogma yang bersifat total tetapi hanya berkenaan dengan hal-hal essensial dimana untuk melaksanakannya pun tetap berpijak pada kondisi lokal(desa-kala-patra)

Senin, 15 Februari 2016

Yajna

Nacyanti nawyah kawyani
naranama wijanatam
bhasmi bhutesu wipresu
mohad dattani datrbhih

"Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu"

-Manava Dharma Sastra III.97

Beryadnyalah seikhlas mungkin dan maknai setiap yadnya yang anda lakukan, tanpa itu yadnya anda akan sia-sia

Melaksanakan yadnya hendaknya didasari oleh rasa keikhlasan bukan paksaan apalagi keharusan. Jika anda memiliki kemampuan yang kecil dalam beryadnya, lakukanlah yadnya yang kecil jangan memaksakan diri untuk melakukan yadnya yang besar apalagi didasari oleh rasa gengsi. Namun jika anda memiliki kemampuan lebih dalam melakukan yadnya tersebut, tidak masalah melaksanakan yadnya dengan biaya yang besar.

Tri Sarira

Tri Sarira berasal dari tiga kata, “tri” artinya tiga, dan “sarira” yang artinya badan. Jadi tri sarira adalah tiga pembagian tubuh manusia  yang merupakan tempat tinggal dari Sang Hyang Atma. Adapun pengertian lain:

Tiga lapisan/selubung mahluk hidup secara jasmani maupun rohani (Centanananda, 1999)
Tiga unsur pokok lapisan badan ( Oka, 2009)
Tiga badan ( Risikesa 1999 )
Tri sarira terdiri dari sthula sarira, suksma sarira, dan anta karana sarira, dimana ketiganya ini memiliki peranan yang sangat penting dalam hidup manusia.

Sthula Sarira

Sthula sarira disebut juga dengan jagrapada, badan wedag atau badan kasar, yaitu dimana badan manusia pada saat ini mengalami kesadaran biasa dimana panca indra dapat bekerja sebagaimana biasa, sehingga pada saat ini manusia benar-benar merasakan hidup dan merasakan bahwa Sang Hyang Atma berada dalam tubuhnya. Keadaan ini disebut dengan “wiswa” karena tubuh dapet menikmati bermacam-macam objek melalui indria.

Secara sederhana sthula sarira adalah organ-organ tubuh manusia yang dapat dirasakan secara fisik. Sthula sarira terbentuk dari panca tan mantra dan panca maha bhuta.

Adapun bagian dari Panca Maha Bhuta adalah sebagai berikut:

Perthiwi (unsur padat) membentuk tulang,otot,dan daging.
Apah (unsur cair) membentuk darah,lendir,enzim,kelenjar keringat,dan cairan tubuh lainnya.
Teja (unsur panas) membentuk suhu tubuh.
Bayu (unsur udara/angin) membentuk tenaga,nafas,dan udara-udara lainnya dalam tubuh.
Akasa/Ether (unsur kosong) membentuk rongga-rongga dalam tubuh.
Kemudian dari Panca Maha Bhuta tersebut terbentuk lah Panca Tan Mantra yang terdiri dari:

Sabda Tan Matra = benih suara
Sparsa Tan Matra = benih rasa sentuhan
Rupa Tan Matra = benih pengelihatan
Rasa Tan Matra = benih rasa
Gandha Tan Matra = benih penciuman
Stula Sarira juga dibentuk oleh Sad Kosa yaitu enam lapisan pembungkus.

Bagian-bagian Sad Kosa:

Asti/Taulan = tulang
Adwad = otot
Sumsum = sumsum
Mamsa = daging
Rudhira = darah
Carma = kulit
Suksma Sarira

Dibentuk oleh Tri Antakarana atau Tiga Penyebab Akhir.

Yang terdiri dari:

Budhi, fungsinya untuk menentukan keputusan.
Manah,fungsinya untuk berpikir.
Ahamkara,fungsinya untuk merasakan dan bertindak.
Suksma sarira disebut juga citta, swapna pada, atau badan halus. Secara sederhana bisa diartikan sebagai pikiran atau ingatan manusia. Keadaan yang paling sederhana untuk menggambarkan suksma sarira adalah ketika seseorang bermimpi, dimana dalam mimpi tersebut manusia memiliki kesadaran hanya pada ingat pada pikirannya, dimana dari pikiran tersebut dia bisa merasakan senang dan sakit seklipun tubuh fisik tidak merasakan demikian. Keadaan Sang Hyang Atma dalam suksma sarira disebut dengan taijasa.

Suksma Sarira sebagai badan halus adalah alam pikiran manusia, yaitu lapisan badan yang tidak dapat dilihat dan diraba. Disebut dengan badan halus karena alam pikiran ini letaknya jauh di dalam badan kasar (tubuh fisik).

Sebagai citta, suksma sarira adalah pengalaman yang dibuat tubuh, dipikirkan, dilihat dan dirasakan selama manusia hidup di dunia ini. Citta merupakan salah satu unsur yang membentuk watak atau budi seseorang. Pada citta ini terdapat unsur Dasendria yang terdiri dari Panca Buddhindriya dan Panca Karmendriya.

Panca Budhindriya yaitu lima indriya pengenal yang terdiri dari:

Cakswindriya adalah indria pengelihatan yaitu terletak pada mata
Srotendriya adalah indria pendengar yaitu terletak pada telinga
Ghranendriya adalah indria penciuman yaitu terletak pada hidung
Twakindria adalah indria pengenal rasa sentuhan yaitu terletak pada kulit
Jihwendria adalah indria pengecap yaitu terletak pada lidah
Panca Karmendrya adalah lima indriya pekerja atau penggerak tubuh manusia yang terdiri dari:

Panindriya adalah indria penggerak pada tangan
Padendria adalah indria penggerak pada kaki
Garbhendriya adalah indria penggerak pada perut
Upastendriya adalah indria penggerak pada kemaluan laki-laki atau Bhagendriya pada kemaluan perempuan.
Pajwindriya adalah indria penggerak pada pantat atau dubur.
Selain dasendrya, suksma sarira juga memiliki hubungan dengan Panca Maya Kosa yaitu lima pembungkus dari badan halus yang terdiri dari:
Anamaya kosa yaitu badan dari sari makanan
Pranamaya kosa yaitu badan dari sari nafas
Manomaya kosa yaitu badan dari sari pikiran
Wijnanamaya kosa yaitu badan dari sari pengetahuan
Anandamaya kosa yaitu badan kebahagian
Anta Karana Sarira

Anta karana sarira disebut juga antakaranapada, susupta pada, atau badan penyebab. Merupakan badan yang paling halus yang disebut juga sebagai atman.  Keadaan tubuh dalam anta karana sarira adalah seperti orang tidur lelap yang tidak ingat apa-apa yang ada hanya kekosongan, namun pada saat bersamaan ia merasakan keindahan yang luar biasa, keadaan ini disebut dengan sripada.

Pada saat Sang Hayang Atman berada pada ketiga wilayah tersebut, maka Sang Hyang Atman disebut dengan atma sangsara dimana Sang Hyang Atma kontak dengan dunia luar melalui tubuh sehingga menimbulkan keinginan yang harus dipenuhi, dan dalam memenuhi keinginan ini maka terjadilah penderitaan.

Fungsi dari masing-masing bagian dari Tri Sarira adalah mempunyai fungsi yang berbeda-beda,namun dalam satu-kesatuan. Stula Sarira dan Suksma Sarira merupakan alat dari Antakarana Sarira (Jiwatman).

Kamis, 04 Februari 2016

tuntunan sembahyng



TUNTUNAN SEMBAHYANG 
  1. I.             PENDAHULUAN
Dalam ajaran agama Hindu disebutkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memperoleh kebahagiaan hidup lahir bathin (Moksartaham Jagadhita). Tujuan hidup ini diperoleh melalui usaha dan kerja keras yang dilandasi oleh Sraddha (keyakinan/keimanan) dan (ketakwaan/bhakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Sanghyang Widhi Wasa).
Ada enam unsur Sraddha yang dapat memberikan keseimbangan hidup di dunia, yakni: pertama, Satya yang merupakan unsur kebenaran dan kejujuran menjadi sifat dan hakekat Tuhan; kedua, Rta merupakan hukum Tuhan yang Bersifat abadi; ketiga, Diksa sebagai alat untuk sampai pada tingkat kesucian diri; keempat, Tapa sebagai upaya mensucikan diri lahir bathin; kelima, Brahma merupakan sthava atau doa pujian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan; keenam, Yajña yakni korban suci yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas.
Salah satu wujud pengamalan Sraddha dalam kehidupan sehari-hari adalah melalui pelaksanaan persembahyangan Panca Yajña.
  1. II.          KETENTUAN UMUM PERSEMBAHYANGAN 
1.      Makna dan Tujuan Sembahyang
  1. Untuk menghormati dan mengagungkan kebesaran sifat Tuhan Yang Maha Esa, selaku pencipta dan penguasa alam semesta.
  2. Sebagai pengakuan diri bahwa pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang sangat lemah.
  3. Sebagai permohonan maaf dan pengampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan dalam hidupnya.
  4. Menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas segala waranugraha-Nya.
  5. Memohon perlindungan-Nya agar dijauhkan dari segala bahaya maupun cobaan hidup.
  6. Menemukan suasana kedamaian lahir dan bathin.
2.      Tempat Sembahyang
Pura adalah merupakan tempat sembahyang atau pemujaan kepada Sanghyang Widhi Wasa beserta manifestasi kemahakuasaan-Nya. Menurut fungsinya Pura dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Pura Kahyangan Umum (Kahyangan Jagat) dan Pura Kahyangan Khusus (Sanggar, Pamerajan, Paibon, Kawitan dan lain-lain).
  1. Pura Kahyangan Umum adalah tempat persembahyangan untuk seluruh umat Hindu. berdasarkan konsepsi/filosofisnya dibagi atas beberapa kelompok yakni:
1). Pura kahyangan Umum yang berdasarkan konsepsi Rwabhineda yakni : Pura Besakih sebagai Purusa dan Pura Batur sebagai Pradhana.
2). Pura Kahyangan Umum yang berdasarkan konsepsi Catur Lokapala, merupakan konkritisasi dari Cadu Sakti atau empat kemahakuasaan Sanghyang Widhi Wasa, yakni :
a)      Pura Lempuyang di Timur.
b)      Pura Batukaru di Barat.
c)      Pura Puncak Mangu di Utara.
d)     Pura Andakasa di Selatan.
3). Pura Kahyangan Umum yang didasarkan konsepsi Sadwinayaka yang merupakan landasan pendirian Sad Kahyangan di Bali, yakni:
a)      Pura Kahyangan Agung (Pura Besakih).
b)      Pura Kahyangan Lempuyang Luhur.
c)      Pura Kahyangan Gua Lawah.
d)     Pura Kahyangan Uluwatu.
e)      Pura Kahyangan Batukaru.
f)       Pura Kahyangan Pusering Tasik (Pusering Jagat).
4).  Pura Jagat Nata yang ada di berbagai daerah di Indonesia.
  1. Pura Kahyangan Khusus.
1)      Pura Kahyangan Desa (Teritorial) yaitu Pura yang disungsung atau dibina oleh warga desa adat, yakni:
a)      Pura Desa, dibangun guna menyembah Sanghyang Widhi Wasa dalam Prabhawa/manifestasi-Nya sebagai Brahma, Maha Pencipta alam semesta beserta isinya.
b)      Pura Puseh, di bangun guna menyembah Sanghyang Widhi Wasa dalam Prabhawa/manifestasi-Nya sebagai Wisnu, Maha Pemelihara alam semesta beserta isinya.
c)      Pura Dalem, dibangun guna menyembah Sanghyang Widhi Wasa, dalam Prabhawa/manifestasi-Nya sebagai Siwa, Maha Kuasa melebur seluruh alam semesta beserta isinya.
2)      Pura Swagina (Pura fungsional) yaitu Pura yang penyungsung atau pengemongnya terikat oleh ikatan swagina/swadayanya dalam sistem mata pencaharian, seperti: Pura Subak, Pura Melanting, dan sebagainya.
3)      Pura Kawitan, yaitu tempat pemujaan atau persembahyangan bagi kelompok keluarga tertentu, misalnya Sanggar Pamrajan yang berada disetiap pekarangan rumah.
Jenis yang lebih besar dari Sanggar Pamrajan dinamakan Paibon, Dadia, Panti atau Padharman. Dalam perkembangannya terdapat beberapa hal yang dipakai sebagai landasan menbuat Sanggar pemujaan atau Pamrajan, yakni :
a)      Bagi yang tidak memiliki rumah sendiri (menyewa), biasanya membuat Sanggar dari bahan kayu yang disebut Waton (plangkiran) ditempatkan dalam kamar disebelah Timur atau Utara.
b)      Bagi yang baru membuat rumah sendiri, bila keadaan memungkinkan dapat mendirikan sebuah Sanggar Pamrajan.
3.      Macam-macam Persembahyangan
  1. Menurut waktu pelaksanaan.
1)      Nitya Kala, yaitu persebahyangan yang dilaksanakan 3 (tiga) kali sehari disebut Tri Sandhya, dilakukan tanpa memakai sarana yaitu :
a)      Sembahyang pagi hari, pelaksanaannya antara jam. 04.30 – 06.00 disebut Pratah Savanam.
b)      Sembahyang tengah hari antara jam. 12.00 – 13.30 disebut Madyadina Savanam.
c)      Sembahyang sore hari antara jam. 18.00 – 19.30 disebut Sandhya Savanam.
2)      Naimitika Kala, yaitu persembahyangan yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu, terutama hari-hari yang disucikan (dirayakan) dengan mempergunakan sarana dupa/api (Aghni), air (Toyam), buah-buahan (Phalam), bunga (Puspam) dan dedaunan (Patram), antara lain :
a)      Persembahan Deva Yajna: Purnama, Tilem, hari-hari suci keagamaan (Galungan, Kuningan, Sarasvati, Pagervesi, Sivaratri dan Nyepi).
b)      Persembahyangan pada hari-hari raya Nasional.
c)      Persembahyangan khusus yang dilaksanakan oleh perorangan, keluarga atau kelompok masyarakat dengan maksud menyampaikan niat tertentu.
  1. Menurut bentuk pelaksanaannya.
1)      Persembahyangan bersama dengan dipandu puja Sulinggih.
2)      Persembahyangan bersama tanpa dipandu puja Sulinggih.
3)      Presembahyangan perorangan.
4.      Persyaratan Sembahyang
  1. Persyaratan lahir (sakala, wahya) :
1)      Bersihkan badan dengan mandi. Boleh juga mandi dengan air kumkuman.
2)      Berpakaian yang bersih dah sopan.
3)      Sarana persembahyangan yang dipakai supaya baik, misalnya : Bunga yang harum dan segar, dupa yang harum serta kwangen.
4)      Tempat persembahyangan yang bersih dan bersuasana tenang.
  1. Persyaratan bathin (niskala, adyatmika) :
1)      Rasa tulus ihklas dalam melaksanakan sembahyang.
2)      Kesadaran bathin yang luhur dan suci sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu : suci dalam pikiran, suci dalam perkataan, dan suci dalam perbuatan.
3)      Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa/Sanghyang Widhi Wasa secara pasrah dan utuh.
4)      Kesadaran melaksanakan sembahyang agar ditujukan pada jalan dharma, kesucian dan kesejahtraan mahluk serta alam semesta.
5)      Meyakini ajaran Tat Tvam Asi yakni memandang semua mahluk mempunyai hakikat yang sama.
5.      Sikap Sembahyang
  1. Sikap tangan.
1)      Sikap tangan pada waktu Tri Sandhya. Mengambil sikap Devapratistha atau Amusti Karana yaitu kedua ibu jari tangan dipadukan dengan telunjuk tangan kanan (berbentuk “kojong”) atau kedua ibu jari tangan kanan dan kiri dipertemukan/ditempelkan sedangkan jari-jari tangan yang lain saliang bertumpukan diatas ulu hati.
2)      Sikap tangan pada waktu melaksanakan kramaning sembah. Sikap tangan pada waktu melaksanakan persembahyangan/kramaning sembah yaitu kedua belah telapak tangan dicakupkan dan diangkat keatas ubun-ubun.
  1. Sikap badan pada waktu sedang sembahyang.
Bila memuja dalam sebuah Pura, Sanggar Pamrajan dan sebagainya dilakukan dengan cara duduk. Bagi kaum pria dengan sikap Padmasana (Silasana) sedangkan sedangkan bagi kaum wanita dengan sikap Bajrasana (bersimpuh). Ada lagi sikap-sikap yang lain misalnya bagi yang sakit mengambil sikap Sawasana. Selanjutnya apabila kondisitempat tidak memungkinkan untuk duduk maka dapat dilaksanakan dengan mengambil sikap Padasana (berdiri).
6.      Hubungan Sembahyang Dengan Yajna
Bertitik tolak dari pengertian sembahyang yang merupakan pemujian kepada Sanghiang Widhi Wasa, dengan segala Prabhawa/manifestasi kemahakuasaan – Nya, yang dilaksanakan penuh ketululusan hati ,maka yajna pun memiliki pengertian yang sama dengan sembahyang. Dengan demikian antara Sembahyang dan Yajna memiliki hubungan yang erat dimana kedua – duanya bertujuan mewujudkan suatu kehidupan yang bahagia dan sejahtera lahir batin  (Moksartham Jagadhita).
Veda mengajarkan 5 (lima) macam Yajna, yang disebut Panca Yajna, yaitu:
  1. Deva Yajna adalah korban suci/persembahan suci sebagai perwujudan rasa terima kasih yang disampaikan kepada Sanghiang Widi Wasa dan para Dewa penjaga kosmos dan hukum kehidupan yang diciptakannya dengan tujuan tercapaenya ketentraman dan kesejahteraan lahir batin .
  2. Rsi Yajna adalah korban suci/persembahan suci sebagai perwujudan rasa terima kasih kepada para Maharesi penerima Wahyu, kepada para Brahmana, Guru yang telah mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama. RsiYajna dapat pula diwujudkan dalam bentuk penyucian diri secara spiritual melalui upacara Pewintenan/Diksa (Inisiasi/ pentahbisan).
  3. Pitra Yajna adalah korban suci kepada para Leluhur dengan tujuan:
1)      Mengembalikan jasadnya kepada lima unsur alam ini yaitu tanah (prtiwi), sinar (teja), udara (bayu), air (apah), dan ether (akasa) melalui upacara “Sawa Wedana”.
2)      Menyucikan roh agar kembali ke asalnya melalui upacara “Atma Wedana”.
  1. Manusa Yajna adalah korban suci atau upacara untuk manusia guna meningkatkan kehidupan spiritualnya. Upacara ini dimulai sejak bayi dalam kandungan sampai dewasa dan menjelang mati.
  2. Bhuta Yajna, adalah korban suci kepada para Bhuta (mahluk yang lebih rendah dari manusia) agar siklus alam semesta ini tetap harmonis dan ekosistem tetap berjalan dengan semestinya. Korban suci pada upacara Buta Yajna disampaikan dalam bentuk upakara korban yang disebut “Caru”, mulai dari tingkat yang terkecil sampai tingkat yang lebih besar sesuai kepentingannya.
7.      Pemimpin Dalam Persembahyangan
  1. Pandita/Sulinggih. Berdasarkan Keputusan Maha Sabha Parisada ke II tanggal 2 s.d 5 Desember 1968, ditetapkan bahwa mereka yang telah melaksanakan upacara Diksa/ditapak oleh Nabenya dengan Bhiseka Pandita (Pedanda, Bhujanga, Rsi, Bhagawan, Empu dan Dukuh) berkewajiban menyelesaikan upacara/upakara Panca Yajna (Loka Palasraya).
  2. Pinandita. Bagi mereka yang telah melaksanakan upacara “Pawintenan” sampai dengan “Adhiksa Widhi” dengan tidak ditapak dan “Amari aran”, yaitu: Pemangku, Mangku Dalang, Wasi, Mangku Balian, dan Dharma Acarya berwenang menyelesaikan upacara/upakara yang telah ditentukan sesuai  Kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu.
8.      Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan.
Guna menjaga dan memelihara kesucian Pura, para umat hendaknya selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan tentang larangan masuk Pura/tempat suci.
  1. Bagi wanita dalam keadaan menstruasi, habis melahirkan atau aborsi.
  2. Dalam keadaan berhalangan karena cuntaka antara lain:
1)      Kematian: Keluarga terdekat sampai dengan mindon, serta orang-orang yang ikut mengantar jenazah, demikian pula alat-alat yang dipergunakan untuk keperluan itu.
2)      Sakit kelamin (Siphilis).
3)      Kusta (yang menular).
4)      Gila.
5)      Gamiya Gamana (kawin/bersanggama dengan ibu, saudara, anak).
6)      Salah timpal (kawin dengan binatang).
  1. Menodai kesucian Pura/tempat suci (berpakaian tidak sopan, bercumbu, berkelahi, buang hajat besar/kecil dan mencoreng – coreng bangunan/tempat suci).
III.       PERSIAPAN SEMBAHYANG
Doa Kramaning Sembah
  1. Persiapan Sembahyang
Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan bathin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan. Termasuk dalam persiapan lahir ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaianyang bersih dan rapi, bunga dan dupa, sedangkan persiapan bathin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana prasarana sembahyang adalah sebagai berikut:
1)      Asuci Laksana.
Pertama – tama orang membersihkan badan dengan mandi. Kebersihan badan dan kesejukan lahir mempengaruhi ketenangan hati.
2)      Pakaian.
Pakaian waktu sembahyang supaya diusahakan pakaian yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran. Pakaian yang ketat dan warna yang mencolok hendaknya dihindari.
Pakaian harus disesuaikan dengan dresta (kebiasaan) setempat, supaya tidak menarik perhatian orang.
3)      Bunga atau Kwangen.
Bunga atau Kwangen adalah lambang kesucian, supaya diusahakan bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada Kwangen dapat diganti dengan bunga. Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang. Menurut Agastyaparwa, bunga tersebut adalah:
Bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa digoncang, bunga-bunga yang berisi semut, bunga yang layu yaitu bunga yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh di kuburan. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan.
4)      Dupa.
Apinya dupa adalah simbol Sanghyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sanghyang Widhi, setiap Yajna dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya ditaruh sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan teman-teman di sebelah.
5)      Tempat duduk.
Tempat duduk hendaknya diusahakan tidak mengganggu ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk ialah menghadap Pelinggih. Jika mungkin agar menggunakan alas duduk seperti tikar dan sebagainya.
6)      Sikap duduk.
Sikap duduk dapat dipilih sesuai dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik untuk pria ialah sikap duduk bersila (Padmasana, Silasana, Sidhasana) dan badan tegak lurus. Sikap duduk bagi wanita ialah sikap Bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan sikap ini badan menjadi tegak lurus, sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran.
7)      Sikap tangan.
Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah “Cakuping kara kalih” yaitu kedua telapak tangan dikatupkan dan diletakkan diatas di depan ubun-ubun. Bunga atau kwangen dijepit pada ujung jari tengah.

IV.       PELAKSANAAN SEMBAHYANG
  1. 1.      Doa Tri Sandhya
    1. Duduk  (Padmasana, Sidhasana, Silasana, Vajrasana)
OM PRASADA STHITI SARIRA
SIVA SUCI NIRMALA YA NAMAH SVAHA
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Suci, pemelihara kehidupan, hamba puja Dikau dengan sikap yang tenang.
  1. Pranayama :
1)      Puraka (Menarik nafas)
OM ANG NAMAH
2)      Kumbaka (Menahan nafas)
OM UNG NAMAH
3)      Recaka (Mengeluarkan nafas)
OM MANG NAMAH
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur alam semesta hamba puja Dikau.
  1. Kara Sodhana (Sarira Suddha)
OM SODDHA MAM SVAHA
OM ATI SODDHA MAM SVAHA
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, sucikanlah hamba dari segala dosa.
  1. Puja Tri Sandhya :
1)      OM OM OM BHUR BHUVAH SVAH,
TAT SAVITUR VARENYAM,
BHARGO DEVASYA DHIMAHI
DHIYO YO NAH PRACODAYAT
2)      OM NARAYANA EVEDAM SARVAM,
YAD BHUTAM YASCA BHAVYAM,
NISKALANGKO NIRANJANO NIRVIKALPO,
NIRAKHYATAH SUDHO DEVA EKO,
NARAYANO NA DVITYO ASTI KASCIT
3)      OM TVAM SIVAH TVAM MAHADEVA,
ISVARAH PARAMESVARAH,
BRAHMA VISNUSCA RUDRASCA,
PURUSAH PARIKIRTITAH
4)      OM PAPO’HAM PAPA KARMAHAM,
PAPATMA PAPA SAMBAVAH,
TRAHI MAM PUNDARIKAKSAH,
SABAHYABHYANTARAH SUCIH
5)      OM KAMASVA MAM MAHADEVAH,
SARVAPRANI HITANGKARA,
MAM MOCA SARVA PAPEBHYAH,
PALAYASVA SADA SIVAH
6)      OM KSANTAVYAH KAYIKO DOSAH,
KSANTAVYO VACIKA MAMA,
KSANTAVYO MANASO DOSAH,
TAT PRAMADAT KSAMASVA MAM,
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM
Artinya:
1)      Om Sanghyang Widhi Wasa yang menguasai ketiga dunia ini, Engkau Maha Suci, sumber segala cahaya dan kehidupan, berikanlah budi nurani kami penerangan sinar cahaya-Mu Yang Maha Suci.
2)      Om Sanghyang Widhi Wasa, sumber segala ciptaan, sumber semua makhluk dan kehidupan, Engkau tak ternoda, suci murni, abadi dan tak ternyatakan. Engkau Maha Suci dan tiadalah Tuhan yang kedua.
3)      Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau disebut juga Siwa, Mahadewa, Brahma, Wisnu dan juga Rudra, karena Engkau adalah asal mula segala yang ada.
4)      Om Sanghyang Widhi Wasa, hamba-Mu penuh kenestapaan, nestapa dalam perbuatan, jiwa, kelahiran. Karena itu oh Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari kenestapaan ini, dan sucikanlah lahir bathin hamba.
5)      Om Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Utama, ampunilah hamba-Mu, semua makhluk Engkau jadikan sejahtera, dan Engkau bebaskan hamba-Mu dari segala kenestapaan atas tuntunan suci-Mu oh Penguasa kehidupan.
6)      Om Sanghyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa dari perbuatan, ucapan, dan pikiran hamba, semoga segala kelalaian hamba itu Engkau ampuni. Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.
  1. 2.      Kramaning sembah
Urutan-urutan Sembah
Urutan – urutan sembah, baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama adalah seperti di bawah ini, dengan catatan apabila dipimpin oleh Sulinggih atau Pinandita maka umat melafalkan mantram/doa di dalam hati.
1)      Sembah tanpa bunga (Muyung)
Mantram:
OM ATMA TATTVATMA SODDHA MAM SVAHA
Artinya:
Om Atma atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba.
2)      Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sanghyang Aditya dengan sarana bunga.
Mantram:
OM ADITYASYAPARAM JYOTI (H)
RAKTA TEJO NAMO’STUTE
SVETAPANKAJA MADHYASTHAH
BHASKARAYO NAMO’STUTE
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, Sinar Surya Yang Maha Hebat, Engkau bersinar merah, hormat pada-Mu, Engkau yang berada di tengah-tengah teratai putih, hormat pada-Mu pembuat sinar.
3)      Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Ista Dewata dengan sarana Kwangen atau bunga.
Mantram:
OM NAMO DEVAYA, ADHISTHANAYA, SARVA VYAPI VAI SIVAYA, PADMASANA EKAPRATISTHAYA, ARDHANARESVARYAI NAMO NAMAH SVAHA.
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, hormat kami kepada dewa yang bersemayam di tempat utama kepada Siwa yang sesungguhnya berada dimana – mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba menghormat.
4)      Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Pemberi Anugerah, dengan sarana Kwangen atau bunga.
Mantram:
OM NUGRAHAKA MANOHARA,
DEVA DATTANUGRAHAKA,
ARCANAM SARVA PUJANAM,
NAMAH SARVANUGRAHAKA,
OM DEVA DEVI MAHASIDDHI,
YAJNANGGA NIRMALATMAKA,
LAKSMI SIDDHISCA DIRGHAYUH
NIRVIGHNA SUKHA VRDDHISCA.
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau yang menarik hati, pemberi anugerah. Anugerah pemberian Dewa, pujaan dalam semua pujian, hormat pada-Mu pemberi semua anugerah. Kemahasidian Dewa dan Dewi, berwujud Yajna, pribadi suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, kegembiraan dan kemajuan.
5)      Sembah tanpa bunga (Muyung).
Mantram:
OM DEVA SUKSMA PARAMACINTYAYA NAMAH SVAHA.
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, hormat pada Dewa yang tak berpikiran yang maha tinggi, yang maha gaib. Setelah persembahyangan selesai dilanjutkan dengan mohon Tirtha (air suci) dan Bija/Wibhuti.
6)      Metirtha.
Sebelum Tirtha dipercikkan, ucapkan terlebih dahulu mantram ini:
OM PRATAMA SUDHA, DVITYA SUDHA, TRITYA SUDHA, CATURTI SUDHA, PANCAMI SUDHA, SUDHA, SUDHA, SUDHA VARIASTU NAMAH SVAHA.
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga kami dianugerahi kesucian, hormat kepada-Mu.
Dapat pula dengan menggunakan mantram berikut ini:
  1. Pemercikan tiga kali ke ubun – ubun:
OM ANG BRAHMA AMRTHA YA NAMAH
OM UNG WISNU AMRTHA YA NAMAH
OM MANG ISVARA AMRTHA YA NAMAH
Artinya:
Om Hyang Widhi Wasa, bergelar Brahma, Wisnu, Iswara, hamba memuja-Mu semoga dapat memberi kehidupan (dengan tirtha ini).
  1. Minum Tirtha tiga kali:
OM SARIRA PARIPURNA YA NAMAH,
OM ANG UNG MANG SARIRA SUDHA,
PRAMANTYA YA NAMAH,
OM UNG KSAMA SAMPURANYA NAMAH.
Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, Maha Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur segala ciptaan, semoga badan hamba terpelihara selalu, bersih, terang dan sempurna.
  1. Meraup, mengusap Tirtha ke muka ke arah atas:
OM SIVA AMERTHA YA NAMAH,
OM SADHA SIVA AMERTHA YA NAMAH,
OM PARAMA SIVA AMERTHA YA NAMAH.
Artinya:
Oh Hyang Widhi (Siwa, Sadha Siwa, Parama Siwa) hamba memuja-Mu semoga memeberi amrtha pada hamba.
7)      Memasang bija:
  1. Bija untuk di dahi:
OM SRIYAM BHAVANTU
(Oh Hyang Widhi, semoga kebahagiaan meliputi hamba).
  1. Bija untuk di bawah tenggorokan:
OM SUKHAM BHAVANTU
(Oh Hyang Widhi, semoga kesenangan selalu hamba peroleh).
  1. Bija untuk ditelan:
OM PURNAM BHAVANTU
OM KSAMA SAMPURNA YA NAMAH SVAHA.
(Oh Hyang Widhi, semoga kesempurnaan meliputi hamba, Oh Hyang Widhi semoga semuanya menjadi bertambah sempurna).
8)      Meninggalkan tempat suci, didahului Parama santih:
OM SANTIH, SANTIH, SANTI OM.
Artinya :
Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga damai dihati, damai didunia dan damai selalu.

  1. V.          PENUTUP
Keseluruhan isi doa dalam Tuntunan Sembahyang ini akan bermakna dan mempunyai kekuatan spiritual (bertuah) apabila diyakini sebagai kebenaran, serta dilafalkan dengan rasa bhakti atau kepasrahan, karena sesungguhnya Sanghyang Widhi Wasa Yang Maha Kuasa menakdirkan segala kejadian. Semoga kita senantiasa dituntun ke jalan yang benar dan dianugerahi keselamatan.
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
* Dikutip dari: Ketetapan Mahasabha VI Parisada Hindu Dharma Indonesia, Nomor : I/TAP/M.SABHA/1991 Tentang Tata Keagamaan