Tampilkan postingan dengan label Gerakan Literasi Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerakan Literasi Sekolah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juni 2017

Buku Panduan Pemanfaatan Sudut Baca di SD

Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, perpustakaan sekolah merupakan bagian dari sarana dan prasana yang wajib ada untuk menunjang pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Buku Panduan Pemanfaatan Sudut Baca di SD

Pada pasal 23 ayat (1)Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan menyatakan, setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan standar nasional pendidikan.

Standar Nasional perpustakaan tersebut menjadi acuan dalam pendirian, pengelolaan, dan pengembangan perpustakaan yang berlaku sama secara nasional.

Buku Panduan Pemanfaatan Sudut Baca di SD


Perpustakaan sekolah harus dapat melayani peserta didik, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya (warga sekolah) agar memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan sesuai dengan kurikulum dan pembelajaran yang dilaksanakan.

Perpustakaan sekolah bukan hanya berfungsi sebagai unit kerja yang menyediakan bahan bacaan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, akan tetapi merupakan sumber belajar bagi peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan masyarakat sekolah yang keberadaannya sebagai bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan sekolah.

Akan tetapi, dalam praktiknya, keberadaan dan layanan perpustakaan sekolah masih kurang diminati oleh peserta didik dan warga sekolah lainnya. Diperlukan upaya yang berkelanjutan dari semua pihak agar dapat meningkatkan minat peserta didik dan warga sekolah untuk mengakses perpustakaan.

baca juga :
> Buku Panduan Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi SD.
> Buku Panduan Pemanfaatan dan Pengembangan Perpustakaan SD.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang.

Salah satu upaya meningkatkan minat dan memperluas akses layanan perpustakaan adalah dengan mengembangkan sudut baca kelas dan area baca sekolah agar dapat lebih mudah dan lebih dekat dengan perserta didik dan warga sekolah lainnya.

Sahabat Dunia Pendidikan, dibawah ini adalah Buku Panduan Pemanfaatan Sudut Baca di SD yang dapat diambil melalui dropbox.

> Buku Panduan Pemanfaatan Sudut Baca di SD.

Demikianlah yang dapat disampaikan mengenai Buku Panduan Pemanfaatan Sudut Baca di SD, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Jumat, 02 Juni 2017

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif.
Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang

Berdasarkan hal itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi
Sekolah (GLS). GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Sahabat Dunia Pendidikan, Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini.

Dalam Pelaksanaannya GLS melibatkan berbagai pihak di berbagai tingkatan mulai dari pemangku kepentingan di tingkat pusat, daerah, satuan pendidikan sampai masyarakat. Tiap pihak yang terlibat dalam pelaksanaan GLS memiliki peran masing-masing. Penjelasan mengenai peran masing-masing pemangku kepentingan dijabarkan dalam dokumen Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah.

Di dalam dokumen tersebut juga dijelaskan konsep, definisi, struktur koordinasi, strategi, gambaran umum tahapan kegiatan dalam GLS, serta monitoring dan evaluasi.

Untuk melaksanakan kegiatan GLS, diperlukan suatu panduan (dapat diambil diakhir artikel ini) yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah (2016).

Buku Panduan GLS ini berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran beserta langkah-langkah operasional pelaksanaan dan beberapa contoh praktis instrumen penyertanya.

Selain Desain Induk, ada juga Panduan Gerakan Literasi Sekolah untuk tiap jenjang pendidikan yang menjelaskan tahap-tahap pelaksanaan GLS dan dapat diambil sesuai dengan jenjang yang tertera dibawah ini :

> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SLB.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMK.
> Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Demikianlah yang dapat disampaikan mengenai Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS)


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, mengutip perkataan dari Ki Hadjar Dewantara "Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita."
Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

baca juga :
> Beginilah Cara Menata Sarana Literasi Sekolah di SD.
> Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah.
> Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi.

Praktik pendidikan perlu menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran agar semua warganya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk mendukungnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS.

Sahabat Dunia Pendidikan, Sebelum Mengambil buku Saku Gerakan Literasi Sekolah pada akhir artikel ini. Berikut ini penjelasan singkat mengenai Gerakan Literasi Sekolah yang dijabarkan melalui beberapa pertanyaan :

APA GERAKAN LITERASI SEKOLAH?

Gerakan Literasi Sekolah Merupakan Sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Seperti apakah sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang literat ?

Sekolah yang menyenangkan dan ramah anak di mana semua warganya menunjukkan empati, kepedulian, semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan, cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya.

Apa Pelibatan publik ?

Peran serta warga sekolah (guru, kepala sekolah, peserta didik, orang tua, tenaga pendidikan, pengawas sekolah, dan Komite Sekolah) akademisi, dunia usaha dan industri dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sahabat Dunia Pendidikan Mengenai Gerkan Literasi Sekolah Secara Lengkap, silahkan ambil Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang tertera dibawah ini :

> Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Demikianlah yang dapat disampaikan mengenai Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS), semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMK

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMK


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMK ini disusun untuk memberikan acuan pokok kepada semua pemangku kepentingan yang terkait dengan pelaksanaan literasi di SMK.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMK

Dengan terbitnya panduan ini, diharapkan memberi kejelasan dan kemudahan semua pihak dalam melaksanakan berbagai perencanaan kegiatan, kerja sama dan memadukan program secara sinergis.

baca juga :
> Beginilah Cara Menata Sarana Literasi Sekolah di SD.
> Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah.
> Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi.

Dengan program yang disusun oleh berbagai pihak diharapkan akan meningkatkan kemampuan literasi peserta didik SMK, yang sekaligus akan meningkatkan perannya dalam kemajuan bangsa Indonesia.

Sahabat Dunia Pendidikan, Pendidikan literasi yang dilakukan di Indonesia, ditengarai belum mengembangkan kemampuan berpikir tinggi, atau HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang meliputi kemampuan analitis, sintesis, evaluatif, kritis, imajinatif, dan kreatif.

Hal ini tergambar bahwa di sekolah, terdapat dikotomi antara belajar membaca (learning to read) dan membaca untuk belajar (reading to learn). Kegiatan membaca belum mendapatkan perhatian yang mendalam, terutama di mata pelajaran non-bahasa. Ketika mempelajari konten mata pelajaran normatif, adaptif dan produktif, guru kurang menggunakan teks materi pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir tinggi tersebut.

Siswa SMK yang terlahir di era teknologi informasi (digital natives) membaca dan menulis dilakukan dengan cara yang berbeda dari generasi sebelum mereka. Kecakapan ini harus terakomodasi di ruang kelas maupun di lingkungan SMK, sehingga harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kecakapan kognitif, sosial, bahasa, visual, dan spiritual.

Sahabat Dunia Pendidikan, Ruang lingkup Gerakan Literasi Sekolah di SMK meliputi :
  1. Lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi).
  2. Lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SMK.
  3. Lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).

Desain Induk GLS, menyebutkan bahwa GLS dilaksanakan dalam 3 tahapan seperti disebutkan berikut ini :
  1. Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No. 23 Tahun 2015).
  2. Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan.
  3. Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran: menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.

Sahabat Dunia Pendidikan, Untuk lebih jelasnya mengenai Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMK silahkan ambil dibawah ini :


Demikianlah yang dapat disampaikan mengenai Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMK, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Siswa SMA di Indonesia berkemungkinan mempunyai potensi dan kemampuan yang sangat luar biasa untuk bersaing dengan siswa dari negara yang lebih maju seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan yang dinilai mampu dalam bidang matematika sains, dan membaca. Berdasarkan hasil kajian dan pengalaman empiris diketahui bahwa membaca merupakan salah satu rahasia sukses siswa dari negara maju tersebut.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA

Disadari bahwa kebiasaan membaca siswa SMA belum sepenuhnya tumbuh menjadi budaya. Oleh karena itu, kebiasaan membaca harus ditumbuhkembangkan di sekolah sebagai bagian dari pendidikan di SMA.

baca juga :
> Beginilah Cara Menata Sarana Literasi Sekolah di SD.
> Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah.
> Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi.


Sahabat Dunia Pendidikan, Dalam rangka membudayakan kebiasaan membaca, Direktorat Pembinaan SMA memprogramkan pembinaan peningkatan minat membaca siswa SMA melalui gerakan literasi sekolah.

Pada program tersebut, sekolah bersama dengan pemangku kepentingan lainnya memfasilitasi dan menggerakkan budaya membaca siswa.

Panduan ini (Dapat diambil di akhir artikel ini) merupakan referensi bagi kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua untuk memahami literasi dan menerapkannya di SMA. Substansi dari panduan ini akan terus dikembangkan. Oleh karena itu, saran dan masukan dari warga sekolah dan pemangku kepentingan sangat diperlukan. Semoga panduan ini dapat memberikan inspirasi dan inovasi bagi sekolah untuk melaksanakan program literasi dan menumbuhkembangkan budaya minat baca.

Sahabat Dunia Pendidikan, Panduan ini ditujukan bagi guru sebagai pendidik dan pustakawan sebagai tenaga kependidikan untuk membantu mereka melaksanakan kegiatan literasi di SMA. Selain itu, kepala sekolah perlu mengetahui isi panduan ini guna memfasilitasi guru dan pustakawan untuk menjalankan peran mereka dalam kegiatan literasi sekolah.

Dimanan GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Panduan GLS di SMA ini berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi di SMA yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Ruang lingkup GLS di SMA, meliputi:
  1. Lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi);
  2. Lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SMA; dan
  3. Lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).

Sahabat Dunia Pendidikan untuk lebih jelasnya mengenai GLS di SMA, Berikut dilampirkan Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA yang dapat diambil dibawah ini :


Demikianlah yang dapat disampaikan mengenai Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP

GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

baca juga :
> Beginilah Cara Menata Sarana Literasi Sekolah di SD.
> Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah.
> Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi.

Sahabat Dunia Pendidikan, Panduan GLS di SMP (Buku Panduan dapat diambil pada link di akhir artikel) ini berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi di SMP yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Ruang lingkup GLS di SMP meliputi:
  1. Lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi);
  2. Lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SMP; dan
  3. Lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).

Adapun Sasaran GLS ini di tujukan bagi guru sebagai pendidik dan pustakawan sebagai tenaga kependidikanuntuk membantu mereka melaksanakan kegiatan literasi di SMP. Selain itu, kepala sekolah perlu mengetahui isi panduan ini guna memfasilitasi guru dan pustakawan untuk menjalankan peran mereka dalam kegiatan literasi sekolah.

Tahap-Tahap Gerakan Literasi Sekolah Di Smp :
  1. Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No. 23 Tahun 2015).
  2. Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan.
  3. Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran: menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.

Sahabat Dunia Pendidikan, Lebih jelasnya silahkan ambil Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP dibawah ini :


Demikianlah yang dapat disampaikan mengenai Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamin.

Kamis, 01 Juni 2017

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SLB

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SLB


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Gerakan Literasi Sekolah Merupakan upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan dalam membudayakan Membaca.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SLB

Gerakan Literasi Sekolah memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”.

baca juga :
> Beginilah Cara Menata Sarana Literasi Sekolah di SD.
> Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah.
> Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SLB.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS.

Sahabat Dunia Pendidikan, Gerakan literasi di SLB bertujuan untuk menciptakan iklim literasi SLB, yang meliputi:
  1. Lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi); 
  2. Lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SLB, dan 
  3. Lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).

Perlu Juga diketahui Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi di SLB yang terbagi pada jenjang SDLB, SMPLB, dan SMALB untuk untuk masing-masing kelainan: 
  1. Tunanetra (A), 
  2. Tunarungu (B), 
  3. Tunagrahita (C), 
  4. Tunadaksa (D), dan
  5. Autism (F).

Sahabat Dunia Pendidikan, Untuk lebih Jelasnya, silahkan kunjungi dan ambil Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SLB dibawah ini :


Demikianlah yang dapat disampaikan mengenai Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SLB, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini.

Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut.

Pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD- Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA).
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD

Sahabat Dunia Pendidikan. Perlu Juga diketahui, GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah :
  • Nomor (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; 
  • Nomor (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; 
  • Nomor (8) melakukan revolusi karakter bangsa; 
  • Nomor (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
Empat butir Nawacita tersebut diatas terkait erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, berkarakter, serta nasionalis.

Untuk melaksanakan kegiatan GLS, diperlukan suatu panduan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah.

baca juga :
> Beginilah Cara Menata Sarana Literasi Sekolah di SD.
> Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah.
> Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi.

Sahabat Dunia Pendidikan, Buku Panduan GLS (dapat diambil pada akhir artikel dibawah ini) berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: 
  • pembiasaan, 
  • pengembangan, dan 
  • pembelajaran beserta langkah-langkah operasional pelaksanaan dan beberapa contoh praktis instrumen penyertanya.

Panduan ini ditujukan bagi kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan untuk membantu mereka melaksanakan kegiatan literasi di SD.

Target Pencapaian Pelaksanaan GLS di SD

GLS di SD menciptakan ekosistem pendidikan di SD yang literat. Ekosistem pendidikan yang literat adalah lingkungan yang:
  1. menyenangkan dan ramah peserta didik, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar;
  2. semua warganya menunjukkan empati, peduli, dan menghargai sesama;
  3. menumbuhkan semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan;
  4. memampukan warganya cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya; dan
  5. mengakomodasi partisipasi seluruh warga sekolah dan lingkungan eksternal SD.

Untuk Lebih jelasnya mengenai Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD silahkan kunjungi dan ambil Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di bawah ini :


Demikianlah yang dapat disampaikan mengenai Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Selasa, 09 Mei 2017

Penjelasan Singkat Perbedaan RPP K13 Edisi Revisi 2017 Dengan RPP K13 Revisi 2016

Penjelasan Singkat Perbedaan RPP K13 Edisi Revisi 2017 Dengan RPP K13 Revisi 2016


RPP K13 Edisi Revisi 2017
Rpp Kurikulum 2013 Revisi 2017

Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Kurikulum 2013 sekarang sudah direvisi lagi untuk tahun 2017. Revisi K13 Tahun 2017 tidak terlalu signifikan, namun perubahan di fokuskan untuk meningkatkan hubungan atau keterkaitan antara kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD).

Sedangkan dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) K13 revisi 2017, yang dibuat harus muncul empat macam hal yaitu; PPK, Literasi, 4C, dan HOTS sehingga perlu kreatifitas guru dalam meramunya.
[ads-post]
Perbaikan atau revisi Kurikulum 2013 tahun 2017 Adalah sebagai berikut :
  1. Mengintergrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didalam pembelajaran. Karakter yang diperkuat terutama 5 karakter, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. 
  2. Mengintegrasikan literasi; keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative); 
  3. Mengintegrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill). 

Gerakan PPK perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan sekaligus menyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakter yang sudah dilaksanakan sampai sekarang.

Pengintegrasian dapat berupa :
  • Pemaduan kegiatan kelas, luar kelas di sekolah, dan luar sekolah (masyarakat/komunitas); 
  • Pemaduan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler; 
  • Pelibatan secara serempak warga sekolah, keluarga, dan masyarakat;

Perdalaman dan perluasan dapat berupa:
  • Penambahan dan pengintensifan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada pengembangan karakter siswa,
  • Penambahan dan penajaman kegiatan belajar siswa, dan pengaturan ulang waktu belajar siswa di sekolah atau luar sekolah;
  • Penyelerasan dapat berupa penyesuaian tugas pokok guru, Manajemen Berbasis Sekolah, dan fungsi Komite Sekolah dengan kebutuhan Gerakan PPK.

Penjelasan Singkat tentang Gerakan Literasi Sekolah


Pengertian Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Literasi dapat dijabarkan menjadi ;
  1. Literasi Dini (Early Literacy),
  2. Literasi Dasar (Basic Literacy), 
  3. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), 
  4. Literasi Media (Media Literacy), 
  5. Literasi Teknologi (Technology Literacy), 
  6. Literasi Visual (Visual Literacy).

Keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation). Inilah yang sesungguhnya ingin kita tuju dengan K-13, bukan sekadar transfer materi. Tetapi pembentukan 4C. Beberapa pakar menjelaskan pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di Abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis. Penguasaan keterampilan abad 21 sangat penting, 4 C adalah jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar pengusaan hardskill.

Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kurikulum 2013 juga menuntut materi pembelajarannya sampai metakognitif yang mensyaratkan peserta didik mampu untuk memprediksi, mendesain, dan memperkirakan. Sejalan dengan itu ranah dari HOTS yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari sebuah konteks tertentu; evaluasi merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta/informasi; dan mengkreasi merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide.

Maka tidak mungkin lagi menggunakan model/metode/strategi/pendekatan yang berpusat kepada guru, namun kita perlu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran (Active Learning). Khusus untuk PPK merupakan program yang rencananya akan disesuaikan dengan 5 hari belajar atau 8 jam sehari sedangkan untuk 2 hari merupakan pendidikan keluarga.

Demikian yang dapat disampaikan mengenai Penjelasan Singkat Perbedaan RPP K13 Edisi Revisi 2016 Dengan RPP K13 Revisi 2017, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Jumat, 29 Juli 2016

Beginilah Cara Menata Sarana Literasi Sekolah di SD

Menata sarana dan lingkungan kaya literasi di SD


Sahabat Dunia Pendidikan yang berb4hagia, Sarana literasi mencakup perpustakaan sekolah, Sudut Baca Kelas, dan area baca. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat pembelajaran di SD. Pengembangan dan penataan perpustakaan menjadi bagian penting dari pelaksanaan gerakan literasi SD dan pengelolaan pengetahuan yang berbasis pada bacaan. Perpustakaan yang dikelola dengan baik mampu meningkatkan minat baca warga SD dan menjadikan mereka pembelajar sepanjang hayat. Perpustakaan SD idealnya berperan dalam mengkoordinasi pengelolaan Sudut Baca Kelas, area baca, dan prasarana literasi lain di SD.
Beginilah Cara Menata Sarana Literasi Sekolah di SD
gerobak baca
1) Perpustakaan SD
  • Fungsi perpustakaan SD adalah sebagai pusat pengelolaan pengetahuan dan sumber belajar di SD yang dikelola oleh kepala SD.
  • Perpustakaan SD dapat dikelola oleh tim perpustakaan yang terdiri atas tenaga yang terlatih di dalam pengelolaan bahan literasi.
  • Perpustakaan SD sebaiknya dilengkapi oleh berbagai sistem dan aplikasi untuk mencatat pengunjung, dan aktivitas membaca, dan sarana literasi lain.

baca juga : 

2) Sudut Baca Kelas
  • Sudut Baca Kelas adalah sebuah sudut di kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku yang ditata secara menarik untuk menumbuhkan minat baca peserta didik.
  • Sudut Baca Kelas adalah sudut di ruangan kelas yang digunakan untuk memajang koleksi bacaan dan karya peserta didik.
  • Sudut Baca Kelas berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan SD, yaitu mendekatkan buku kepada peserta didik.
  • Sudut Baca Kelas dikelola oleh guru, peserta didik, dan orang tua.

3) Area Baca

Area baca meliputi lingkungan sekolah (serambi, koridor, halaman, kebun, ruang kelas, tempat ibadah, tempat parkir, ruang UKS, ruang kepsek, ruang guru, ruang tunggu orang tua, toilet dll.) yang dilengkapi oleh koleksi buku untuk memfasilitasi kegiatan membaca peserta didik dan warga sekolah.


4) UKS, kantin, dan kebun sekolah
  • UKS di SD perlu mengkampanyekan gaya hidup sehat (mencuci tangan, membersihkan diri, dan perilaku yang mendukung kebersihan, kerapian, keindahan). Bahan kaya teks dapat memperkaya kegiatan UKS, di antaranya poster kesehatan/kebersihan; peribahasa-peribahasa yang terkait dengan gaya hidup sehat, kebersihan, kerapian, serta keindahan.
  • Kantin sekolah yang selama ini menjual makanan tidak sehat harus diubah dengan cara mengembangkan teknologi makanan yang bersih dan sehat. Teknologi makanan terkait dengan cara membersihkan, menyimpan, memasak atau mengolah makanan, menyajikan, dan mengemas makanan. Dengan demikian, aktivitas di kantin akan memperkuat proses pembelajaran yang terintegrasi dengan sains, matematika, bahasa, seni, muatan lokal, revolusi hijau, dan sebagainya.
  • Kebun sekolah adalah laboratorium hidup dapat mengajarkan pengetahuan tentang beragam jenis tanaman hias, tanaman obat, tanaman pangan, tanaman bumbu dapur, dan buah-buahan yang bermanfaat untuk kesehatan dan kehidupan. Di kebun sekolah ini, beragam aktivitas dapat dikembangkan untuk memperkuat proses pembelajaran secara terintegrasi.
  • Kebun sekolah, kantin, dan UKS dapat dilengkapi dengan prasarana yang nyaman (meja, kursi, rak-rak buku) untuk membuat peserta didik betah membaca.

Demikian sahabat pendidikan yang dapat disampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin

sumber : Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar

GAMBARAN UMUM GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SEKOLAH SEKOLAH DASAR

GAMBARAN UMUM GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SEKOLAH SEKOLAH DASAR


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Keterampilan membac4 berperan penting dalam kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini.

GAMBARAN UMUM GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SEKOLAH SEKOLAH DASAR
Gerakan literasi sekolah

Dalam konteks internasional, pemahaman membaca tingkat sekolah dasar (kelas IV) diuji oleh Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan (IEA-the International Association for the Evaluation of Educational Achievement) dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang dilakukan setiap lima tahun (sejak tahun 2001). Selain itu, PIRLS berkolaborasi dengan Trends in International Mathematics and Science Studies (TIMSS) menguji kemampuan matematika dan sains peserta didik sejak tahun 2011. Pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD—Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA).
Sahabat Dunia Pendidikan, Uji literasi membaca mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan. Dalam PIRLS 2011 International Results in Reading, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012). Sementara itu, uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor ratarata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Data PIRLS dan PISA, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah.

Rendahnya keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.


Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS.

Desain Induk ini disusun guna memberi arahan strategis bagi kegiatan literasi di lingkungan satuan pendidikan dasar dan menengah. Pelaksanaan GLS akan melibatkan unit kerja terkait di Kemendikbud dan juga pihak-pihak lain yang peduli terhadap pentingnya literasi. Kerja sama semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan sangat diperlukan untuk melaksanakan gerakan bersama yang terintegrasi dan efektif.

Demikian yang dapat disampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua,aamiin.

sumber ; Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar

Kamis, 28 Juli 2016

Tiga Tahap Pelaksanaan GLS

Tiga Tahap Pelaksanaan GLS


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Progr4m Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah di seluruh Indonesia. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas sekolah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga sekolah, dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan). Untuk memastikan keberlangsungannya dalam jangka panjang, GLS dilaksanakan dengan tahap-tahap berikut ini :

Tiga Tahap Pelaksanaan GLS
tahapan GLS

1. Pembiasaan ;

Yaitu Penumbuhan MINAT BACA melalui kegiatan 15 menit membaca (sesuai dengan Permendikbud No. 23 Tahun 2015) dalam kegiatan Pembiasaan tersebut indikator yang harus dicapai siswa yaitu :
  • Melakukan kegiatan 15 menit membaca (membaca dalam hati, membacakan nyaring) yang dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau menjelang akhir pelajaran)
  • Kegiatan 15 menit membaca telah berjalan selama minimal 1 semester;
  • Peserta didik memiliki jurnal membaca harian;
  • Guru, kepala sekolah, dan/atau tenaga kependidikan menjadi model dalam kegiatan 15 menit membaca dengan ikut membaca selama kegiatan berlangsung.
  • Ada perpustakaan, sudut baca di tiap kelas, dan area baca yang nyaman dengan koleksi buku nonpelajaran.
  • Ada poster-poster kampanye membaca di kelas, koridor, dan/atau area lain di sekolah.
  • Ada bahan kaya teks yang terpampang di tiap kelas.
  • Kebun sekolah, kantin, dan UKS menjadi lingkungan yang bersih, sehat dan kaya teks. Terdapat poster-poster tentang pembiasaan hidup bersih, sehat, dan indah.
  • Sekolah berupaya melibatkan publik (orangtua, alumni, dan elemen masyarakat) untuk mengembangkan kegiatan literasi sekolah.
  • Kepala sekolah dan jajarannya berkomitmen melaksanakan dan mendukung gerakan literasi sekolah
  • Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya: wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah.
  • Ada kegiatan perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi.
  • Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan.

2. Pengembangan ; 

Yaitu meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan. Dalam Tahap Pelaksanaan Pengembangan Gerakan Literasi Sekolah Indikator yang harus dicapai adalah sebagai berikut :
  • Ada kegiatan 15 menit membaca (Membaca dalam hati dan/atau membacakan nyaring) yang dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau menjelang akhir pelajaran).
  • Ada berbagai kegiatan tindak lanjut dalam bentuk menghasilkan respon secara lisan maupun tulisan
  • Peserta didik memiliki portofolio yang berisi kumpulan jurnal respon membaca.
  • Guru menjadi model dalam kegiatan 15 menit membaca dengan ikut membaca selama kegiatan berlangsung.
  • Tagihan lisan dan tulisan digunakan sebagai penilaian nonakademik.
  • Jurnal respon membaca peserta didik dipajang di kelas dan/atau koridor sekolah.
  • Perpustakaan, sudut baca di tiap kelas, dan area baca yang nyaman dengan koleksi buku nonpelajaran dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan literasi.
  • Ada penghargaan terhadap pencapaian peserta didik dalam kegiatan literasi secara berkala.
  • Ada poster-poster kampanye membaca.
  • Ada bahan kaya teks yang terpampang di tiap kelas, koridor, dan area lain di sekolah.


3. Pembelajaran ;

Yaitu meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran. pada tahapan pembelajaran ini indikator yang dicapai dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah meliputi :
  • Kegiatan membaca pada tempatnya (selain lima belas menit sebelum pembelajaran) sudah membudaya dan menjadi kebutuhan warga sekolah (tampak dilakukan oleh semua warga sekolah)
  • Kegiatan lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran diikuti kegiatan lain dengan tagihan nonakademik atau akademik.
  • Ada pengembangan berbagai strategi membaca
  • Kegiatan membaca buku nonpelajaran yang terkait dengan buku pelajaran dilakukan oleh peserta didik dan guru (ada tagihan akademik untuk peserta didik)
  • Ada berbagai kegiatan tindak lanjut dalam bentuk menghasilkan respon secara lisan maupun tulisan (tagihan akademik)
  • Peserta didik memiliki portofolio yang berisi kumpulan jurnal respon membaca minimal 12 (dua belas) buku nonpelajaran
  • Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua mata pelajaran (misalnya, dengan menggunakan graphic organizers secara optimal, misalnya tabel TIP: Tahu-Ingin-Pelajari; table Perbandingan; Tangga Proses/Kronologis)
  • Guru menjadi model dalam kegiatan membaca buku nonpelajaran dengan ikut membaca buku-buku pilihan (nonpelajaran) yang dibaca oleh siswa
  • Tagihan lisan dan tulisan digunakan sebagai penilaian akademik
  • Peserta didik menggunakan lingkungan fisik, sosial, afektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi–di luar buku teks pelajaran–untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran
  • Jurnal respon peserta didik dari hasil membaca buku bacaan dan buku pelajaran (hasil tagihan akademik) dipajang di kelas dan/atau koridor sekolah
  • Ada penghargaan terhadap pencapaian peserta didik dalam kegiatan berliterasi (berdasarkan tagihan akademik)
  • Ada poster-poster kampanye membaca untuk memperluas pemahaman dan tekat warga sekolah untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat
  • Ada bahan kaya teks terkait dengan mata pelajaran yang terpampang di tiap kelas
  • Ada unjuk karya (hasil dari kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berkomunikasi secara kreatif secara verbai, tulisan, visual, atau digital) dalam perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi
  • Perpustakaan sekolah menyediakan beragam buku bacaan (buku-buku nonpelajaran: fiksi dan nonfiksi) yang diperlukan peserta didik untuk memperluas pengetahuannya dalam pelajaran tertentu.
  • Tim Literasi Sekolah bertugas melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen program literasi sekolah.
  • Sekolah berjejaring dengan pihak eksternal untuk pengembangan program literasi sekolah dan pengembangan profesional warga sekolah tentang literasi.

Jika semua indikator dalam tahap pembelajaran sudah dipenuhi, sekolah atau kelas dapat mempertahankan serta terus-menerus melakukan kreasi dan inovasi. Selain itu, sekolah dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya.

Catatan : Rincian kegiatan akan berbeda di setiap jenjang satuan pendidikan.yang akan kita bahas dalam artikel berikutnya.

Inilah Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah, Demikian yang dapat disampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua, Sekian dan terima kasih.

Sumber : materi umum gerakan literasi sekolah

Rabu, 27 Juli 2016

Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi

Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, di baw4h ini  beberapa parameter yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengukur budaya literasi sekolah yang baik.

Parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi
gerakan literasi sekolah

Ekosistem Sekolah yang Literat



A. Lingkungan Fisik
  • Karya peserta didik dipajang di sepanjang lingkungan sekolah, termasuk koridor dan kantor (kepala sekolah, guru, administrasi, bimbingan konseling).
  • Karya peserta didik dirotasi secara berkala untuk memberi kesempatan yang seimbang kepada semua peserta didik.
  • Buku dan materi bacaan lain tersedia di pojok-pojok baca di semua ruang kelas.
  • Buku dan materi bacaan lain tersedia juga untuk peserta didik dan orang tua/pengunjung di kantor dan ruangan selain ruang kelas.
  • Kantor kepala sekolah memajang karya peserta didik dan buku bacaan untuk anak.
  • Kantor kepala sekolah mudah diakses oleh warga sekolah.

B. Lingkungan Sosial dan Afektif
  • Penghargaan terhadap prestasi peserta didik (akademik dan non-akademik) diberikan secara rutin (tiap minggu/bulan). Upacara hari Senin merupakan salah satu kesempatan yang tepat untuk pemberian penghargaan mingguan.
  • Kepala sekolah mengenali peserta didik bila masuk ruang kelas (bukan hanya peserta didik yang berprestasi atau dianggap bermasalah).
  • Kepala sekolah terlibat aktif dalam pengembangan literasi.
  • Merayakan hari-hari besar dan nasional dengan nuansa literasi, misalnya merayakan Hari Kartini dengan membaca surat-suratnya.
  • Terdapat budaya kolaborasi antarguru dan staf, dengan mengakui kepakaran masingmasing (dan tidak saling menjatuhkan).
  • Terdapat waktu yang memadai bagi staf untuk berkolaborasi menjalankan program literasi dan hal-hal yang terkait dengan pelaksanaannya.
  • Staf sekolah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, terutama dalam menjalankan program literasi.
  • Terdapat Tim Literasi Sekolah yang bertugas melakukan asesmen dan perencanaan. Bila diperlukan, ada pendampingan dari pihak eksternal.
  • Disediakan waktu khusus dan cukup banyak untuk pembelajaran dan pembiasaan literasi: membaca dalam hati (sustained silent reading), membacakan buku dengan nyaring (reading aloud), membaca bersama (shared reading), membaca terpandu (guided reading), diskusi buku, bedah buku, presentasi (show-and-tell presentation).
  • Waktu berkegiatan literasi dijaga agar tidak dikorbankan untuk kepentingan lain yang dianggap tidak perlu.
  • Disepakati waktu berkala untuk Tim Literasi Sekolah membahas pelaksanaan gerakan literasi sekolah.
  • Disepakati waktu berkala untuk Tim Literasi Sekolah membahas pelaksanaan gerakan literasi sekolah.
  • Ada kesempatan pengembangan profesional tentang literasi yang diberikan untuk staf, melalui kerjasama dengan institusi terkait (perguruan tinggi, dinas pendidikan, dinas perpustakaan, atau berbagi pengalaman dengan sekolah lain).
  • Seluruh warga sekolah antusias menjalankan program literasi, dengan tujuan membangun organisasi sekolah yang suka belajar.

Aspek-aspek tersebut adalah karakteristik penting dalam pengembangan budaya literasi di sekolah. Dalam pelaksanaannya, sekolah dapat mengadaptasinya sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Guru dan pimpinan sekolah perlu bekerjasama untuk mengimplementasikan strategi tersebut.

Demikian sahabat dunia pendidikan, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin



Sumber : materi umum gerakan literasi sekolah

Selasa, 26 Juli 2016

Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah

Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Bud4ya Literasi Sekolah memiliki peran yang amat penting dalam menanamkan budaya literat pada anak didik. Untuk itu, tiap sekolah tanpa terkecuali harus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan literasi.  Di sekolah dengan budaya literasi yang tinggi, peserta didik akan cenderung lebih berhasil dan guru lebih bersemangat mengajar.

Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah
Strategi GLS
Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Perlu dipahami bahwa program membaca seperti membaca dalam hati dan membaca nyaring hanyalah bagian dari kerangka besar untuk membangun budaya literasi sekolah. Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literat, Beers, dkk. (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy Instruction menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah.

1. Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi

Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik dipajang di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu, karya-karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di Sudut Baca di semua kelas, kantor, dan area lain di sekolah. Ruang pimpinan dengan pajangan karya peserta didik akan memberikan kesan positif tentang komitmen sekolah terhadap pengembangan budaya literasi.


2. Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat

Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Selain itu, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran. Ini bias direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Pimpinan sekolah selayaknya berperan aktif dalam menggerakkan literasi, antara lain dengan membangun budaya kolaboratif antarguru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing-masing. Peran orang tua sebagai relawan gerakan literasi akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam pengembangan budaya literasi.


3. Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat

Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan tenaga kependidikan untuk peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.

Sahabat Dunia Pendidikan, Demikian yang dapat di sampaikan mengenai Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin

sumber : materi umum literasi Sekolah

Senin, 25 Juli 2016

Gerakan Literasi Sekolah : Konsep Literasi Sekolah

Konsep Literasi dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)


Gerakan Literasi Sekolah : Konsep Literasi Sekolah
KONSEP LITERASI SEKOLAH
Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.

Baca juga :
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang.

Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan komponen literasi informasi sebagai berikut:
[ads-post]
  • Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
  • Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
  • Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang saat ini bisa dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan informasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam menambah pengetahuan.
  • Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
  • Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

Sahabat Dunia Pendidikan, Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global (global citizen).

Dalam konteks Indonesia, kelima keterampilan tersebut perlu diawali dengan literasi usia dini yang mencakup fonetik, alfabet, kosakata, sadar dan memaknai materi cetak (print awareness), dan kemampuan menggambarkan dan menceritakan kembali (narrative skills).

Pemahaman literasi dini sangat penting dipahami oleh masyarakat karena menjamurnya lembaga bimbingan belajar baca-tulis-hitung bagi batita dan balita dengan cara yang kurang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, perlu diberi perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan literasi usia dini berlanjut ke literasi dasar.

Dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan komponen literasi peserta didik. Selain itu, diperlukan juga pendekatan cara belajar-mengajar yang keberpihakannya jelas tertuju kepada komponen-komponen literasi ini.

Kesempatan peserta didik terpajan dengan kelima komponen literasi akan menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi visual. Sebagai langkah awal, dapat disimpulkan bahwa diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan untuk terciptanya lingkungan literasi ini.

Demikian Sahabat Dunia Pendidikan yang dapat disampaikan mengenai Konsep Literasi Sekolah, semoga bermanfaat bagi kita semua. aamiin

sumber : Buku materi umum gerakan literasi sekolah

Minggu, 24 Juli 2016

Gerakan Literasi Sekolah : Tujuan dan Prinsip

Tujuan dan Prinsip Gerakan Literasi Sekolah


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, kembali dalam 4rtikel kali ini akan kita bahas mengenai Tujan dan Prinsip-prinsip pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Gerakan Literasi Sekolah : Tujuan dan Prinsip
gerakan budaya membaca

Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Tujuan Umum

Menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.
[ads-post]
Baca Juga :
> Prinsip dan Pendekatan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang.

Tujuan Khusus
  1. Menumbuh kembangkan budi pekerti.
  2. Membangun ekosistem literasi sekolah.
  3. Menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran (learning organization) (Senge, 1990).
  4. Mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management).
  5. Menjaga keberlanjutan budaya literasi.

Sasaran Gerakan Literasi Sekolah

Ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah.


Prinsip-prinsip Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah


Sahabat dunia Pendidikan, Menurut Beers (2009), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut:


1. Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa diprediksi.


2. Program literasi yang baik bersifat berimbang
  • Sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian, diperlukan berbagai strategi membaca dan jenis teks yang bervariasi pula.

3. Program literasi berlangsung di semua area kurikulum
  • Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran. Pembelajaran di mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.

 4. Tidak ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis yang bermakna
  • Kegiatan membaca dan menulis di kelas perlu dilakukan kapan pun kondisi di kelas memungkinkan. Untuk itu, perlu ditekankan bentuk kegiatan yang bermakna dan kontekstual. Misalnya, ‘menulis surat untuk wali kota’ atau ‘membaca untuk ibu’ adalah contoh-contoh kegiatan yang bermakna dan memberikan kesan kuat kepada peserta didik.

 5. Diskusi dan strategi bahasa lisan sangat penting
  • Kelas berbasis literasi yang kuat akan melakukan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga harus membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan satu sama lain.

 6. Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah
  • Penting bagi pendidik untuk tidak hanya menerima perbedaan, namun juga merayakannya melalui agenda literasi di sekolah. Buku-buku yang disediakan untuk bahan bacaan peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar peserta didik dapat terpajan pada pengalaman multicultural sebanyak mungkin.

Demikian Sahabat Dunia Pendidikan mengenai Tujuan dan Prinsip Gerakan Literasi Sekolah yang dapat disampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin

sumber : Materi Umum Gerakan Literasi Sekolah 

Sabtu, 23 Juli 2016

Gerakan Budaya Membaca Gerakan Literasi Sekolah

Dunia Pendidikan : Gerakan Literasi Sekolah 


Sahabat Dunia Pendidikan yang berbahagia, Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif.

gerakan literasi sekolah

Berdasarkan hal itulah, perlu dikemb4ngkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Pelaksanaan GLS melibatkan berbagai pihak di berbagai tingkatan mulai dari pemangku kepentingan di tingkat pusat, daerah, satuan pendidikan sampai masyarakat. Tiap pihak yang terlibat dalam pelaksanaan GLS memiliki peran masing-masing. Penjelasan mengenai peran masing-masing pemangku kepentingan akan diposting pada artikel berikutnya.

Baca Juga :
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD.
> Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Lengkap Untuk Semua Jenjang.

Gerakan Literasi Sekolah. Pada postingan berikutnya juga akan dijelaskan konsep, definisi, struktur koordinasi, strategi, gambaran umum tahapan kegiatan dalam GLS, serta monitoring dan evaluasi. Selain Desain Induk, ada juga Panduan Gerakan Literasi Sekolah untuk tiap jenjang pendidikan yang menjelaskan tahap-tahap pelaksanaan GLS.

Adapun strategi pelaksanaan GLS meliputi tiga hal, antara lain:
  • Peningkatan kapasitas pemangku kepentingan yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan seperti: rapat koordinasi, lokakarya, sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tingkat pusat (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) sampai dengan tingkat daerah (LPMP, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota); 
  • Peningkatan kapasitas warga sekolah yang dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan kepala sekolah, guru, komite sekolah, pustakawan/ guru pustakawan, dan tenaga kependidikan; dan 
  • Penyediaan sarana dan prasarana yang diupayakan melalui penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran-yang-baik berdasarkan analisis kebutuhan di tingkat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Satuan Pendidikan agar layanan yang diberikan satuan pendidikan idealnya dapat memenuhi Standar Nasional Pendidikan atau minimal memenuhi Standar Pelayanan Minimal. 

Untuk menjamin efektifitas pelaksanaan berbagai kegiatan dalam GLS, khususnya kegiatan yang bertujuan untuk peningkatan kapasitas, diperlukan adanya Pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan secara berjenjang oleh semua pemangku kepentingan sesuai dengan perannya dalam strategi pelaksanaan literasi.

Adapun pihak terkait pelaksanaan monitoring dan evaluasi dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah ini adalah :

Kemendikbud
  • Melaksanakan monev tentang pelaksanaan program di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan satuan pendidikan.

Dinas Pendidikan Provinsi
  • Melaksanakan monev hasil pelaksanaan program dan kegiatan literasi di tingkat provinsi dan di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
  • Melaksanakan monev hasil pelaksanaan program dan kegiatan literasi di tingkat provinsi, kabupaten/kota, satuan pendidikan, dan masyarakat.

Satuan Pendidikan
  • Melaksanakan monev hasil pelaksanaan program dan kegiatan literasi di sekolah masing-masing.

Pelaksaan Monev kegiatan GLS di satuan pendidikan, menggunakan indikator pencapaian setiap
tahapan, apabila satuan pendidikan telah memenuhi indikator pencapaian di satu tahapan, maka
satuan dapat melanjutkan ke tahapan selanjutnya.


Demikian sahabat Dunia Pendidikan, sedikit penjelasan mengenai Gerakan Literasi Sekolah atau dengan istilah lain yaitu Gerakan Budaya membaca. sekian dan terimakasih.


sumber : materi Umum Gerakan Literasi Sekolah